Mantan Pegawai KPK Jadi Pebisnis UMKM, Begini Komentar Pengamat

Pengamat komunikasi Politik Emrus Sihombing, turut menyoroti mantan pegawai KPK yang terjun ke dunia bisnis setelah dipecat karena tak lulus tes wawasan kebangsaan (TWK). Emrus mengatakan, keputusan yang diambil oleh para mantan pegawai KPK tersebut, karena ingin membangun persepsi publik kalau mereka bersedia bekerja apapun selama pekerjaan tersebut halal. "Pola komunikasi yang disampaikan menurut saya tujuannya membangun persepsi di tengah publik, bahwa mereka orang yang sederhana mau bekerja dalam konteks kerja apapun selama itu halal," kata Emrus dalam keterangan tertulisnya, Rabu (13/10/2021).

Terlebih kata dia, ada salah satu mantan pegawai KPK yang menjual nasi goreng dengan gerobak di pinggir jalan yang merupakan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). "Baik itu nasi goreng pakai gerobak dan petani (bentuk bisnisnya)," tukasnya. Diketahui, satu nama dari 57 mantan pegawai KPK yang memilih banting setir menjadi pebisnis kuliner yakni Juliandi Tigor Simanjuntak.

Eks punggawa lembaga antirasuah itu mengambil keputusan untuk berjualan nasi goreng rempah menggunakan gerobak. Letaknya yang berada di sisi jalan Raya Hankam, membuat warung nasi goreng Tigor dirasa tidak sulit untuk ditemukan oleh calon pelanggannya. Tigor menjajakan dagangannya di gerobak stainless dengan bertuliskan 'Nasi Goreng KS Rempah' serta menyewa halaman ruko yang menurut pengakuannya merupakan milik kerabat.

Terpantau di lokasi, warung makan nasi goreng milik Tigor pada malam ini cukup ramai pelanggan. Tempat duduk yang disediakan terlihat penuh ditempati para pelanggannya. Hal itu diketahui setelah mantan punggawa KPK tersebut mengaku kalau inventaris atau barang barang yang berada di warungnya, seperti halnya bangku dan meja pelanggan, dibuat sendiri. "Kalau meja sama bangku (pelanggan) bikin sendiri itu, minimalisir budget," kata Tigor sambil tertawa.

Lebih lanjut, konsep minimalisir budget itu juga diterapkan Tigor dalam memperoleh gerobak yang kini digunakannya. Kata dia, gerobak full stainless dan kaca bertuliskan 'Nasi Goreng KS Rempah' itu dibelinya dari tangan pemilik pertama alias bekas. Meski bekas, namun jika secara penampilan, gerobak milik Tigor masih layak untuk dapat mendukung bisnis nasi goreng rempahnya tersebut.

"Kalau ini gerobak, saya beli bekas, ya sama minim budget," katanya seraya menuangkan bumbu ke wajan panas. Bahkan untuk bahan pokok sekalipun, Tigor juga memilih warung sembako yang memiliki harga jual lebih murah. Padahal awal membuka usaha nasi goreng tersebut, kata dia, untuk berbelanja bahan pokok, Tigor kerap bolak balik ke pasar tradisional.

"Awalnya saya belanjanya di pasar, tapi pas dapat warung sembako yang lengkap juga tapi lebih murah jadinya beli di situ (warung sembako yang tak disebutkan namanya)," tutup Tigor.

Leave a Reply

Your email address will not be published.